
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) berkolaborasi dengan Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja merencanakan studi mendalam tentang efek kesehatan yang berkelanjutan pada pekerja dan masyarakat umum setelah kejadian kebakaran hutan dan lahan. Riset ini bertujuan menyediakan bukti ilmiah kuat untuk melindungi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan pasca-bencana.
Dekan FKUI Anna Rozaliyani menekankan bahwa kesehatan manusia harus menjadi bagian inti dari perlindungan lingkungan. Beliau mengatakan, “Ini adalah persoalan kesehatan, keselamatan, dan masa depan generasi kita. Kita tidak boleh hanya bereaksi ketika bencana terjadi. Pencegahan paparan, pengenalan risiko kesehatan sejak dini, dan tindak lanjut yang tepat harus diperkuat dengan bukti ilmiah dan kolaborasi lintas disiplin.”
Studi akan mengamati kondisi kesehatan selama satu hingga tiga bulan setelah kebakaran terjadi, dengan penekanan khusus pada sisa-sisa gangguan pernapasan dan masalah kesehatan lainnya yang berkaitan dengan paparan asap. Penelitian dikoordinasikan melalui beberapa departemen FKUI dan diharapkan menghasilkan data untuk pengembangan program edukasi dan pemantauan kesehatan berkelanjutan.
Dokter spesialis anak dari IDAI, dr. Nastiti Kaswandani, menjelaskan bahwa risiko paparan asap tidak hanya menyebabkan gangguan pernapasan jangka pendek. Menurutnya, “Anak-anak yang terpapar secara kronik berisiko mengalami gangguan pertumbuhan paru yang bersifat permanen, peningkatan risiko asma persisten dan penyakit paru obstruktif kronis, yang berujung pada stunting, hingga potensi gangguan perkembangan otak dan kognitif.”
Penelitian pada kebakaran hutan 1997 menunjukkan kapasitas paru yang lebih rendah hingga sepuluh tahun kemudian, disertai peningkatan risiko asma kronis dan penyakit paru obstruktif. Paparan sejak dalam kandungan juga berdampak pada pertumbuhan anak dengan efek yang bertahan hingga satu hingga dua dekade kemudian, termasuk risiko stunting dan gangguan perkembangan kognitif.
Untuk mengantisipasi efek jangka panjang, dr. Nastiti merinci empat langkah penting: memantau tumbuh kembang anak secara berkala, memantau kesehatan pernapasan termasuk uji fungsi paru jika memungkinkan, meningkatkan pencegahan melalui imunisasi lengkap dan nutrisi baik, serta melakukan advokasi lingkungan melalui pemantauan kualitas udara dan pencegahan kebakaran hutan.
Dr. Nastiti menekankan bahwa melindungi anak dari dampak kebakaran hutan adalah melindungi pemimpin masa depan. “Lindungi generasi pemimpin masa depan. Anak-anak kita adalah ‘Their Name Is Today’—mereka berhak mendapatkan masa kanak-kanak yang sehat, bukan korban dari udara yang beracun,” ujarnya, menggarisbawahi urgensi tindakan pencegahan dan pemantauan kesehatan berkelanjutan bagi generasi muda Indonesia.
Sumber: Antara News
Baca Juga

Viral di Media Sosial, Fenomena “Selebcat” Bisa Berdampak Negatif pada Kesehatan Kucing

Pramugara Alami Trauma Usai Diserang Penumpang, Ini Pentingnya Patuhi Aturan di Pesawat

BPJS Kesehatan: Penundaan Klaim Hanya 4 Persen, Bukan Masalah Dana

