Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Berpotensi Tiba di Jakarta, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Berpotensi Tiba di Jakarta, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kabut tipis yang menyelimuti Jakarta beberapa hari terakhir menimbulkan pertanyaan: apakah asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan bisa sampai ke ibu kota? Ahli bencana dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan hal itu secara meteorologi memang mungkin terjadi, meski masih perlu dibuktikan dengan data angin yang sebenarnya.

Menurut Daryono, selama musim angin timuran, pola pergerakan udara memang umumnya mengarah ke arah tertentu. Namun arah angin di Kalimantan tidak selalu sama dengan arah angin di Laut Jawa atau Jakarta karena sangat dipengaruhi oleh ketinggian, lokasi, waktu, dan kondisi atmosfer setempat.

Partikel-partikel halus berukuran PM2.5 dari asap karhutla bisa terangkat tinggi ke atmosfer melalui pusaran panas dan turbulensi. Di ketinggian tertentu, arah angin berbeda dengan angin permukaan, sehingga asap bisa mengalami transportasi atmosfer yang tidak searah dengan angin di permukaan tanah.

Gangguan atmosfer seperti area tekanan rendah atau perubahan pola monsun dapat mengubah aliran udara sementara, yang berpotensi membawa asap melintas ratusan kilometer hingga ke Laut Jawa dan Jakarta. Namun asap yang perjalanan jauh akan mengalami pengenceran, percampuran dengan udara lain, perubahan kimia, dan pengendapan.

Kualitas udara Jakarta memang mencatat angka yang mengkhawatirkan. Data dari IQAir pada Jumat pagi menunjukkan Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 186 (kategori tidak sehat) dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 107 mikrogram per meter kubik. Sore harinya, AQI turun menjadi 169 dengan PM2.5 mencapai 81 mikrogram per meter kubik—16 kali lebih tinggi dari standar WHO.

Sepanjang hari itu, kualitas udara Jakarta berkisar antara sedang hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif, dengan AQI rata-rata 110-140+. Wilayah Jakarta Selatan dan Barat menunjukkan tingkat polusi yang lebih tinggi dibandingkan Jakarta Pusat atau Utara.

Daryono menekankan bahwa meskipun analisis ilmiah dapat membedakan partikel PM2.5 dari karhutla dan emisi kendaraan, alat pemantau konvensional tidak dapat langsung memastikan sumber polusi saat asap sudah bercampur dengan emisi lokal. “Saya tidak pernah menyatakan asap karhutla sudah sampai Jakarta, saya malah minta cek ini,” katanya.

Lebih lanjut Daryono menjelaskan, “Jika benar alat kualitas udara di Jakarta mendeteksi PM2.5 dari asap karhutla, maka tulisan saya (di atas) bisa menjadi dasar sains mengapa asap karhutla bisa sampai Jakarta. Saya sendiri belum tahu apakah asap itu sudah sampai Jakarta apa belum.” Untuk kepastian, diperlukan penjelasan resmi dari lembaga berwenang seperti BMKG, BNPB, atau Kementerian Lingkungan Hidup.

Saat ini masyarakat Jakarta disarankan memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan mengingat kualitas udara yang terus berfluktuasi di level yang tidak sehat. Tindakan preventif ini penting sampai sumber polusi dapat dipastikan dan kondisi udara membaik.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top