
Tren Budaya yang Datang dan Pergi Fenomena Musiman dalam Gaya Hidup Manusia.
Tren Budaya yang Datang dan Pergi: Fenomena Musiman dalam Gaya Hidup Manusia – Dunia budaya tak pernah diam. Ia terus bergerak, berubah, dan berkembang seiring waktu. Dalam pusaran perubahan itu, muncul fenomena yang disebut tren budaya—gaya, kebiasaan, atau fenomena populer yang mendadak ramai diikuti, lalu perlahan-lahan menghilang atau tergantikan. Fenomena ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, dari cara berpakaian, makanan hits, gaya rambut, hingga aplikasi media sosial. Tren budaya yang datang dan pergi adalah cermin dari dinamika masyarakat, di mana setiap generasi memiliki identitas dan ekspresinya sendiri. Tapi apa yang sebenarnya mendorong tren itu muncul dan menghilang? Apa makna di balik naik turunnya popularitas sebuah budaya?
Tren Budaya yang Datang dan Pergi: Fenomena Musiman dalam Gaya Hidup Manusia

Mari kita bahas lebih dalam.
1. Tren Adalah Refleksi Zaman
Tren budaya selalu berkaitan erat dengan konteks waktu dan tempat. Di era 80-an, musik disko dan celana cutbray menjadi simbol kebebasan dan pesta. Masuk ke tahun 2000-an, tren bergeser ke fashion Y2K, ponsel lipat, dan musik boyband. Lalu datang era media sosial dengan selfie, challenge TikTok, hingga outfit ala e-girl dan e-boy.
Setiap tren membawa identitas zamannya. Ia mencerminkan kondisi sosial, ekonomi, hingga teknologi pada masanya. Misalnya, tren minimalis muncul sebagai respons terhadap gaya hidup konsumtif. Sementara tren second-hand fashion (thrifting) dipopulerkan seiring meningkatnya kesadaran akan lingkungan.
2. Media Sosial: Mesin Penyebar Tren Instan
Dulu, tren menyebar dari mulut ke mulut atau lewat media massa seperti TV dan majalah. Kini, media sosial menjadi mesin utama penyebaran tren. Dalam hitungan jam, tren baru bisa mendunia. Ingat saat Dalgona Coffee mendadak viral di awal pandemi? Atau saat “Ice Bucket Challenge” mengguncang dunia maya?
Namun, kecepatan penyebaran ini juga membuat tren lebih cepat berlalu. Apa yang hari ini viral, bisa jadi minggu depan sudah basi. Inilah yang menciptakan fenomena tren budaya instan—datang secepat kilat, dan menghilang dengan cepat pula.
3. Tren Fashion: Siklus yang Berulang
Dunia fashion mungkin jadi contoh paling nyata dari tren budaya yang datang dan pergi. Apa yang dulu dianggap kuno, bisa kembali populer dengan label “vintage” atau “retro”. Misalnya, celana high-waist, kemeja flanel, dan sepatu converse—semuanya pernah meredup, lalu kembali booming dengan gaya yang dimodifikasi.
Siklus ini dikenal dengan sebutan 20-year trend cycle, di mana gaya fashion lama akan muncul kembali sekitar 20 tahun kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa tren sebenarnya tak benar-benar hilang, tapi hanya “tidur” dan menunggu momen untuk bangkit lagi.
4. Musik dan Film: Gelombang Genre yang Berganti
Genre musik seperti rock, punk, hip-hop, EDM, hingga K-pop mengalami masa keemasan masing-masing. Begitu juga dengan film: dari film koboi klasik, horor slasher 80-an, hingga film superhero era Marvel.
Ketika sebuah genre terlalu banyak diproduksi atau mulai membosankan, publik akan mencari sesuatu yang baru. Misalnya, kejenuhan terhadap film superhero belakangan ini mulai membuka ruang untuk genre thriller psikologis dan film independen yang lebih segar.
5. Makanan Hits yang Viral dan Hilang
Siapa yang tidak ingat tren es kepal milo, kue cubit, chocolate lava, hingga croffle? Semua sempat menjadi primadona dan antreannya panjang di mana-mana. Tapi kini, hanya sebagian kecil yang bertahan sebagai produk reguler.
Tren makanan biasanya dipicu oleh dua hal: keunikan visual (instagramable) dan kemudahan akses. Namun karena sifatnya cepat viral, makanan tersebut juga cepat jenuh di mata konsumen.
6. Gaya Hidup dan Gimmick Digital
Budaya digital juga tak luput dari tren yang cepat datang dan pergi. Mulai dari gaya selfie (duck face, mirror selfie), challenge TikTok seperti Savage dance atau Buss It challenge, hingga tren filter wajah ala Barbie atau AI.
Gaya hidup digital terus berevolusi mengikuti teknologi. Saat tren AR dan AI makin umum, kita pun akan melihat tren baru yang menggabungkan dunia nyata dan virtual—seperti avatar digital, influencer virtual, hingga NFT art yang sempat meledak.
7. Mengapa Tren Cepat Hilang?
Tren budaya bersifat dinamis karena manusia itu sendiri selalu mencari hal baru. Ada dorongan psikologis untuk menjadi bagian dari sesuatu yang sedang “in”, tetapi juga keinginan untuk tampil beda ketika sesuatu sudah terlalu umum.
Selain itu, tren yang viral terlalu cepat sering kali kehilangan makna atau kedalaman. Akibatnya, hanya sedikit yang bertahan lama. Sebuah tren bisa jadi populer hanya karena efek FOMO (Fear of Missing Out), bukan karena relevansi jangka panjang.
8. Apakah Semua Tren Akan Hilang? Tidak Selalu
Meski banyak tren yang cepat menghilang, ada juga tren yang berkembang menjadi budaya permanen. Misalnya, gaya hidup plant-based, gerakan zero waste, hingga self-care bukan lagi sekadar tren, tapi mulai menjadi gaya hidup berkelanjutan.
Tren semacam ini biasanya punya nilai yang lebih dalam, menyentuh aspek etika, kesehatan, atau lingkungan. Ketika sebuah tren menyatu dengan kebutuhan hidup, ia bisa bertahan bahkan berkembang sebagai norma baru.
Kesimpulan: Adaptasi adalah Kunci
Tren budaya yang datang dan pergi bukanlah hal buruk. Justru sebaliknya, mereka menunjukkan betapa kreatif dan adaptifnya manusia dalam merespons dunia yang terus berubah. Yang perlu kita lakukan hanyalah memilah—mana tren yang hanya sebatas euforia sesaat, dan mana yang benar-benar berdampak positif dalam hidup.
Mengikuti tren bisa jadi menyenangkan, tapi tak ada salahnya juga menjadi pembuat tren dengan nilai yang lebih bermakna.