
Tradisi Makan yang Bikin Orang Luar Bingung Aneh, Unik, tapi Sarat Makna.
Tradisi Makan yang Bikin Orang Luar Bingung: Aneh, Unik, tapi Sarat Makna – Setiap budaya di dunia punya kebiasaan makan yang berbeda-beda. Bagi orang lokal, semua itu terasa wajar dan bahkan dianggap sopan. Tapi bagi orang luar, beberapa tradisi makan bisa terasa aneh, membingungkan, atau bahkan bertentangan dengan norma yang mereka kenal. Menariknya, di balik keanehan itu, tradisi makan menyimpan makna sosial dan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Inilah bukti bahwa makan bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga soal identitas dan cara berinteraksi. Berikut ini adalah deretan tradisi makan yang bikin orang luar bingung, tapi justru menjadi bagian penting dari budaya masyarakat setempat.
Tradisi Makan yang Bikin Orang Luar Bingung: Aneh, Unik, tapi Sarat Makna

1. Sendawa Setelah Makan Dianggap Sopan – Tiongkok dan Beberapa Wilayah Asia
Di banyak budaya Barat, sendawa setelah makan dianggap tidak sopan. Tapi di beberapa daerah di Tiongkok dan Asia Timur, sendawa justru dianggap bentuk pujian kepada sang koki. Artinya, makanan yang disajikan sangat lezat hingga membuat perut benar-benar kenyang.
Meski kini kebiasaan ini mulai ditinggalkan di kota besar, di beberapa wilayah pedesaan atau acara tradisional, sendawa masih dilihat sebagai ekspresi rasa syukur dan kenikmatan.
2. Makan Pakai Tangan – India, Timur Tengah, dan Indonesia
Bagi sebagian orang luar, makan tanpa alat seperti sendok dan garpu bisa terasa janggal atau bahkan dianggap tidak higienis. Namun di India, Timur Tengah, dan beberapa wilayah di Indonesia, makan dengan tangan—khususnya tangan kanan—adalah bentuk kedekatan spiritual dengan makanan.
Tradisi ini dianggap lebih natural, dan mempererat hubungan antara tubuh, makanan, dan rasa syukur atas rezeki. Bahkan, ada pepatah di India yang mengatakan: “Rasa makanan lebih nikmat saat disentuh tangan sendiri.”
3. Menghirup Mie atau Sup dengan Suara – Jepang
Jika kamu ke Jepang dan mendengar orang menghirup ramen dengan suara nyaring, jangan kaget. Di sana, menghirup mie atau sup dengan bunyi keras justru dianggap cara menikmati makanan dengan sepenuh hati.
Selain menunjukkan apresiasi, suara slurp juga dianggap membantu mendinginkan makanan panas dan memperkuat rasa. Bagi orang Jepang, semakin keras kamu menghirup mie, semakin kamu menghormati pembuatnya.
4. Tidak Menghabiskan Makanan – Tiongkok (Tradisional)
Jika di banyak negara menghabiskan makanan dianggap sopan dan bentuk rasa hormat, di beberapa budaya Tiongkok tradisional, menyisakan sedikit makanan justru menunjukkan bahwa tuan rumah telah memberi makan dengan cukup.
Menghabiskan seluruh makanan bisa dianggap bahwa makanan yang disediakan kurang, dan bisa membuat tuan rumah merasa malu. Tapi tradisi ini kini tak lagi berlaku secara universal—terutama di restoran.
5. Makan dengan Suara Berisik – Korea Selatan
Di Korea Selatan, makan sambil mengobrol, mengeluarkan suara kunyah, atau bahkan bersuara “hmm!” bukan dianggap tidak sopan, tapi justru menunjukkan bahwa makanan itu enak. Suara-suara itu adalah bentuk ekspresi kenikmatan yang natural.
Mereka juga memiliki kebiasaan makan bareng dengan iringan acara TV (mukbang), yang memperlihatkan suara-suara saat makan sebagai bagian dari hiburan.
6. Melempar Piring ke Lantai – Yunani (Tradisional)
Di perayaan besar seperti pernikahan atau acara keluarga, orang Yunani dulu punya kebiasaan melempar piring ke lantai setelah makan sebagai simbol keberuntungan dan pengusir roh jahat.
Meski kini praktik ini lebih banyak disimulasikan karena alasan keamanan dan biaya, melempar piring tetap menjadi simbol kegembiraan dalam budaya Yunani.
7. Menunggu yang Tertua Makan Dulu – Afrika dan Asia
Di banyak budaya Afrika, Timur Tengah, dan Asia, duduk makan bersama adalah momen penuh aturan sopan santun. Salah satu aturan penting adalah tidak boleh makan sebelum yang tertua atau kepala keluarga menyentuh makanan terlebih dahulu.
Tradisi ini menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua dan menegaskan nilai hierarki dalam keluarga atau komunitas.
8. Tidak Boleh Makan dengan Tangan Kiri – Beberapa Negara Muslim dan India
Dalam tradisi Islam dan budaya India, tangan kiri dianggap “tidak suci” karena digunakan untuk keperluan pribadi. Karena itu, makan harus menggunakan tangan kanan. Bahkan jika kamu kidal, tetap disarankan menggunakan tangan kanan saat makan di lingkungan tradisional.
Bagi orang luar, aturan ini bisa membingungkan, tapi bagi penganutnya, ini adalah bentuk kebersihan dan sopan santun yang sangat dijunjung tinggi.
9. Makan dengan Duduk di Lantai – Jepang, Ethiopia, Indonesia
Duduk di lantai saat makan adalah tradisi yang lazim di berbagai budaya. Di Jepang, orang duduk di atas tatami dengan posisi seiza atau bersila. Di Ethiopia, satu piring besar digunakan bersama, dan semua orang duduk melingkar.
Di Indonesia, makan di tikar juga masih lazim dilakukan di banyak daerah, terutama saat acara keluarga. Tradisi ini menciptakan rasa kebersamaan dan kesederhanaan dalam berbagi rezeki.
10. Makan Daging Mentah – Mongolia dan Korea
Beberapa budaya tak canggung menyajikan daging atau makanan mentah. Di Mongolia, konsumsi daging mentah seperti hati atau daging kuda dianggap sebagai sumber kekuatan dan energi. Di Korea, hidangan yukhoe (daging sapi mentah yang dimarinasi) adalah makanan khas.
Orang luar bisa merasa ngeri dengan ide ini, tapi bagi masyarakat setempat, itu adalah hidangan istimewa yang penuh khasiat.
Kesimpulan: Di Balik Aneh, Ada Makna
Tradisi makan yang bikin orang luar bingung sering kali menjadi bahan cerita lucu atau kejutan budaya. Namun jika kita melihat lebih dalam, tradisi tersebut mencerminkan nilai-nilai penting dalam masyarakat—seperti rasa hormat, kebersamaan, spiritualitas, dan identitas budaya.
Dengan memahami dan menghargai tradisi makan dari budaya lain, kita bisa memperluas wawasan, menjadi lebih toleran, dan tentunya—menikmati makanan dengan cara yang lebih bermakna.