Suara Berubah Tanpa Sebab Jelas? Waspadai Kaitan dengan Risiko Demensia

Suara Berubah Tanpa Sebab Jelas? Waspadai Kaitan dengan Risiko Demensia

Perubahan suara yang tampak sepele—seperti nada yang berbeda, volume yang melemah, atau suara yang terdengar tidak jernih—ternyata bisa menjadi sinyal peringatan dini risiko demensia. Temuan ini datang dari penelitian skala besar yang dilakukan Drexel University College of Medicine di Philadelphia, Amerika Serikat.

Studi tersebut melibatkan lebih dari 833.000 peserta berusia 50 tahun ke atas. Para peneliti mengamati hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, atau kombinasi keduanya dengan kemungkinan seseorang mengalami gangguan kognitif—termasuk penyakit Alzheimer—di kemudian hari. Penilaian mulai dilakukan satu tahun setelah peserta didiagnosis mengalami gangguan tersebut.

Hasilnya cukup mengejutkan. Peserta yang hanya mengalami gangguan suara (tanpa masalah pendengaran) memiliki risiko 58 persen lebih tinggi untuk mengalami demensia. Sedangkan mereka yang mengalami kedua gangguan sekaligus—suara dan pendengaran—risikonya melonjak hingga 104 persen lebih tinggi dibanding peserta yang tidak mengalami keduanya.

“Kami menemukan bahwa mereka yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pasien yang hanya mengalami gangguan pendengaran,” kata Robert Sataloff, profesor sekaligus ketua di Drexel University College of Medicine.

Gangguan suara yang dimaksud mencakup berbagai kondisi seperti laringitis, kelumpuhan pita suara, lesi atau benjolan di pita suara, hingga disfonia spasmodik—yakni kondisi di mana otot laring berkontraksi tidak terkendali sehingga suara terdengar terputus-putus atau tegang. Sataloff menyebut keterkaitan ini sebagai hal yang “wajar”, karena rasa tidak nyaman saat berbicara bisa membuat seseorang menarik diri dari aktivitas sosial, sementara sosialisasi justru penting untuk menjaga otak tetap aktif.

Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa gangguan suara bukan berarti seseorang pasti akan mengalami demensia. Temuan ini lebih berfungsi sebagai dorongan agar masalah suara tidak diabaikan dan segera mendapat penanganan medis—karena merawat kesehatan suara pun bisa berdampak positif bagi kesehatan otak secara keseluruhan.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top