:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365473/original/088786100_1791179569-Stray-Kids-2.jpeg)
Gelombang boikot terhadap Grammy Awards 2026 kian meluas di kalangan musisi K-pop. Stray Kids resmi tidak mendaftarkan karya apapun sebelum tenggat waktu 21 Agustus lalu, yang berarti mereka otomatis absen dari nominasi ajang penghargaan musik bergengsi tersebut.
Agensi pelat merah Stray Kids, JYP Entertainment, sudah membenarkan keputusan ini secara terbuka. “Stray Kids tidak akan mengirimkan karya apapun ke Grammy,” kata JYP Entertainment. Meski begitu, pihak agensi tidak memberikan penjelasan resmi soal alasan di balik langkah tersebut.
Keputusan ini bukan tanpa konteks. Sebelumnya, Recording Academy selaku penyelenggara Grammy membuat kategori baru khusus untuk Asian Pop — kebijakan yang langsung memancing reaksi keras dari komunitas K-pop. Banyak pihak khawatir kategori ini justru jadi tembok yang menghalangi lagu dan album K-pop untuk bersaing di kategori utama seperti Album of the Year dan Record of the Year.
BTS lebih dulu menyuarakan penolakan dengan memposting pesan di Instagram pribadi masing-masing member. “Kami harap musik bisa didengar dan dicintai tanpa harus mengkotakkan wilayah dan bahasa,” tulis BTS. Ini adalah sinyal boikot yang cukup terang-terangan dari salah satu grup K-pop paling berpengaruh di dunia.
Dampaknya merambat ke grup lain. Hongjoong, leader dari Ateez, mengaku memahami sikap yang diambil BTS dan menyebut dirinya tengah mempertimbangkan langkah serupa. Sementara itu, Stray Kids sendiri bukan nama sembarangan — mereka sudah sembilan kali menempati puncak Billboard 200 dan seluruh membernya memiliki hak voting resmi di Grammy.
Boikot dari nama-nama besar ini tentu bukan kabar baik bagi Grammy. Jika tren ini terus berlanjut, ajang yang selama ini dianggap puncak pencapaian industri musik global itu bisa kehilangan daya tariknya di mata para artis Asia yang semakin berpengaruh di panggung dunia.
Sumber: Liputan6




