:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579577/original/079405700_1778057267-7.jpg)
Nilai tukar rupiah sedang dalam tekanan berat. Pada pembukaan perdagangan Jumat, 25 September 2026, rupiah melemah 17 poin atau sekitar 0,09 persen menjadi Rp17.933 per dolar Amerika Serikat.
Ekonom CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut tekanan ini lebih banyak datang dari luar negeri. Salah satu pemicunya adalah keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin — istilah untuk satuan ukur perubahan suku bunga. Kenaikan ini membuat selisih antara suku bunga The Fed dan Bank Indonesia menyempit dari sekitar 200 menjadi 175 basis poin.
Selain itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah dan naiknya harga minyak dunia ikut memperburuk situasi. Kondisi ini membuat para investor cenderung memindahkan uang mereka ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga modal mengalir keluar dari negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Kombinasi berbagai tekanan eksternal ini membuat rupiah semakin sulit menguat. Jika tren ini berlanjut, level psikologis Rp18.000 per dolar AS bisa menjadi kenyataan dalam waktu dekat.
Sumber: Liputan6
