:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374156/original/087453600_1792038656-WhatsApp_Image_2026-10-15_at_11.24.11.jpeg)
Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mengalami kondisi udara yang sangat buruk akibat kabut asap yang tebal. Pada Kamis (15/6/2026), langit kota yang biasanya cerah tampak gelap dengan warna kuning kusam, sementara jarak pandang menjadi sangat terbatas. Situasi ini disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung.
Di berbagai titik kota seperti Bundaran Besar, jalan G. Obos, dan sekitar Istana Isen Mulang (rumah jabatan gubernur), pemandangan sama terlihat. Aktivitas lalu lintas lebih sepi dari biasanya, dan warga yang berada di luar rumah mayoritas mengenakan masker untuk melindungi diri dari asap. Posko milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap berdiri di depan rumah jabatan gubernur sebagai pusat koordinasi penanganan darurat.
Kabut asap berdampak langsung pada aktivitas sosial masyarakat. Pemerintah menerapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di semua sekolah dan kampus selama status tanggap darurat karhutla masih berlaku. Akibatnya, jumlah kendaraan dan pejalan kaki di jalan berkurang signifikan karena siswa dan mahasiswa tidak perlu berangkat ke institusi pendidikan.
Kondisi kesehatan udara yang parah ini menciptakan suasana kota yang berbeda dari hari-hari biasa. Warga tetap beraktivitas namun dengan tingkat aktivitas yang menurun drastis, dan upaya penanggulangan bencana terus dilakukan untuk mengatasi krisis kualitas udara akibat karhutla ini.
Sumber: Liputan6




