Kabut Asap Karhutla Ancam Kesehatan Mata, Bukan Hanya Gangggu Pernapasan

Kabut Asap Karhutla Ancam Kesehatan Mata, Bukan Hanya Gangggu Pernapasan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghasilkan kabut asap tebal ternyata tidak hanya membahayakan sistem pernapasan, tetapi juga bisa merusak kesehatan mata. Partikel-partikel asap yang terbang di udara dapat langsung mengenai permukaan mata dan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan mata.

Menurut Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi, paparan asap dari karhutla dapat memicu masalah mata yang cukup serius bagi penduduk di wilayah terdampak. “Kalau karhutla, karena ada partikel-partikel asap yang pasti cukup besar, itu bisa juga pada orang-orang yang terkena matanya, ya, itu menimbulkan mata merah, mata perih,” jelasnya dalam acara media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026 di Jakarta Selatan.

Gejala umum yang dialami masyarakat akibat paparan asap meliputi iritasi mata, kemerahan, dan sensasi perih yang mengganggu. Kondisi ini terjadi karena reaksi alergi atau iritasi langsung ketika partikel asap masuk ke dalam mata. Meskipun demikian, jumlah kasus gangguan mata masih lebih sedikit dibandingkan dengan penyakit pernapasan seperti ISPA dan asma.

Untuk melindungi mata dari bahaya asap, dr Nadia merekomendasikan penggunaan kacamata sebagai pelindung fisik. Selain mampu menghalau sinar ultraviolet (UV), kacamata juga dapat mencegah partikel asap besar dan serpihan lainnya masuk ke mata. Penduduk di daerah terdampak dapat memanfaatkan perlindungan ini sebagai langkah pencegahan.

Jika mata sudah teriritasi akibat paparan asap, dr Nadia menekankan pentingnya tidak mengucek mata karena dapat memperparah iritasi. Sebaliknya, mata sebaiknya segera dibilas dengan air bersih untuk membersihkan partikel yang menyebabkan ketidaknyamanan.

Di lapangan, lonjakan kasus ISPA di berbagai daerah terdampak mencapai angka yang mengkhawatirkan. Data Dinas Kesehatan Sumatera Selatan menunjukkan peningkatan drastis menjadi 11.154 kasus pada minggu ke-40 (4-10 Oktober), tertinggi dibanding minggu-minggu sebelumnya yang hanya sekitar 10 ribu kasus per minggu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel Ira Primadesa mencatat bahwa puncak kasus harian terjadi pada 5 Oktober dengan 2.306 kasus dalam sehari. Secara kumulatif dari Januari hingga Oktober, Sumatera Selatan telah mencatat 416.621 kasus ISPA, dengan September menjadi bulan terburuk dengan 52.483 kasus.

Dampak berkelanjutan dari karhutla tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga pada stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat. Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti bahwa warga terdampak sedang menghadapi tantangan ganda—menjaga kesehatan keluarga sekaligus mempertahankan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam situasi yang tidak pasti.

Puan mendesak pemerintah untuk mengambil pendekatan terpadu dalam mengatasi karhutla, yang mencakup upaya pemadaman api berkelanjutan sekaligus perlindungan komprehensif bagi warga terdampak. Dukungan pemerintah diharapkan dapat memberikan kepastian kesejahteraan penduduk selama krisis berlangsung dan memfasilitasi pemulihan kehidupan pascakarhutla.

Sumber: Detik.com

Baca Juga

Scroll to Top